“Obat Mujarab” Bagi Statmen Panas Yohanes Atun

oleh -34 Dilihat

Lembata-HRC, Kehadiran Wakil Ketua DPRD Lembata Gewura Fransiskus Langobelen seakan menjadi “obat mujarab” bagi statement panas Yohanes Atun.

Sejak dilantik tahun 2019 lalu, DPRD Kabupaten Lembata praktis telah melaksanakan tugas legislativenya secara marathon sesuai agenda Badan Musyawarah (Banmus) DPRD, termasuk agenda rutin tahunan menyerap aspirasi di Daerah Pemilihan (Dapil) masing-masing .

Dalam setahun, agenda rutin tahunan bernama reses itu praktis terlaksana tiga kali setiap kali usai masa sidang. Ironisnya, sebagian warga Nubatukan, Ibukota Kabupaten Lembata terutama di bilangan Walakeam Kelurahan Lewoleba, nyaris belum pernah merasakan “Nikmatnya” aura reses.
Warga setempat mengaku, tak satupun dari tujuh wakil rakyat Dapil Lembata I, selama berparlemen kurang lebih tiga tahun ini memilih Walakeam sebagai lokasi kegiatan reses.
Untung ada Gewura Fransiskus Langobelen. PIlihan Gewura menjadikan Walakeam tempat kegiatan reses pada pekan teakhir Juli 2022 seakan menjadi “obat mujarab”.

“Kami di Kelurahan Lewoleba, khususnya di Walakeam , sejak bapak-bapak dilantik jadi DPRD Kabupaten Lembata tidak pernah bertemu langsung dengan bapak-bapak di lingkungan kami ini. Kami dengar bahwa ada reses dari waktu ke waktu tetapi tidak seorangpun anggota DPRD yang datang bertemu kami,” tegas Yohanes Atun diawal kegiatan reses.

Yohanes Atun menyampaikan “orasi” dan statemen panas sebagai kado pembuka saat Wakil Ketua DPRD Lembata, Gewura Fransiskus Langobelen melaksanakan reses di wilayah itu, yang saripatinya berupa pesan pengharapan kepada DPRD Dapil I terkait aspirasi dan kehidupan social serta dinamika pembangunan di wilayah Nubatukan terutama kota Lewoleba.

“Bagaimana mungkin aspirasi warga dapat disalurkan jika tidak satupun anggota DPRD Dapil I yang berkunjung dan bertemu dengan kami warga masyarakat secara langsung. Saya memberikan aspresiasi dan penghargaan terhadap Pak. Gewura Fransiskus Langobelen yang telah memilih Walakeam untuk kegiatan reses,”tutur Atun.

Reses tersebut selain dihadiri warga Walakeam, kelompok anak muda juga kelompok dasawisma dan karang taruna. Terlihat juga hadir sejumlah ASN dan para pendidik saat kegiatan reses berlangsung.

Jika Yohanes Atun memberikan stamen panas, lain lagi dengan Ina Atawolo yang secara akumulatif memberikan catatan menarik tentang kerusakan jalan dari pertigaan Kalis Kolin ke Gua Maria Lewoleba, demikian juga jalur jalan dari Kalis Kolin menuju rumah Simon Krova yang dalam agenda hidupnya merupakan jalur jalan yang dibangun sejak awal otonomi .

Dihadapan mantan Camat Nubatukan Gewura Fransiskus Langobelen, Atawolo juga meminta agar DPRD selaku lembaga representative masyarakat bermitra dengan pemerintah untuk mengakomodir kepentingan kelompok muda dengan mengikuti pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) sesuai bakat dan keterampilan untuk bisa berusaha secara mandiri setelah pelatihan demi menghindari pengangguran terselubung.

“Kelompok muda di lingkungan kami ini sangat potensial . Mereka memilki niat dan kreasi sendiri untuk berkembang . Kami di lingkungan ini hanya memberi dorongan kepada mereka agar lebih banyak waktu mereka gunakan untuk aktifitas positif seperti bekerja ketimbang duduk nongkrong dan minum minuman keras,” tutur Ina Atawolo, salah seorang ibu yang kesehariannya bersama anak muda berolahraga dan berekreasi.

Selain itu ketersediaan sarana pendidikan sekolah taman kanak kanak juga menjadi sorotan warga setempat. Menurut Ida Batafor, Pemda Lembata musti membangun TK Negeri di setiap desa dan kelurahan di Lembata.
Baginya, sekolah swasta yang dibangun yayasan kerap diperlakukan diskriminatif oleh pemerintah padahal kehadiran sejumlah sekolah swasta tersebut merupakan bagian lain dari peran serta swasta dalam mengembam tugas mulia demi anak anak bangsa.
Bentuk diskriminasi yang dilakukan pemerintah menurut Ida Batafor terlihat jelas dari tenaga pengajar negeri sampai sarana pendidikan hampir tidak dibantu lagi, bahkan guru negeri yang sudah mengabdi sekian tahun di tarik ke sekolah negeri .

“Karena itu saya usulkan agar pemerintah wajib membuka sekolah TK Negeri sebanyak mungkin di Lembata,”tegas Batafor.

Marsel Nuban, petani lahan basa merasa aneh dengan perlakukan Dinas Pertanian yang memberi handtraktor kepada kelompok petani lahan kering bebatuan sementara sebagian besar petani lahan basa di Lewoleba justru yang sangat membutuhkan hentraktor tidak mendapatkan bantuan.

“Apa tujuan sebenarnya memberikan bantuan alat pertanian itu , kalau tidak bertujuan membantu petani mengelolah lahannya untuk peningkatan produksi. Ada alat pertanian yang terparkir menghias halaman rumah petani karena lahan berbatuan .Aneh memang,” ungkap Marsel Nuban .

Terhadap semua aspirasi yang disampaikan kepadanya, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Lembata Gewura Fransiskus Langobelen mencatatnya untuk kemudian disampaikan kepada Pemda Kabupaten Lembata dalam laporan hasil kegiatan reses pada kesempatan pertama.

Kegiatan reses itu ditutup dengan pemberiaan bantuan uang kepada kelompok OMK sebagai stimulus alas Kas OMK Walakeam oleh Ketua DPC PDI Perjuangan Gewura Fransiskus Langobelen setelah sebelumnya Ida Desing mewakili kaum muda meminta bantuan agar kelengkapan bola kaki, bola volley dan net supaya bisa diberikan ke anak muda untuk bisa berolahraga secara rutin . (Sulthan)

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

No More Posts Available.

No more pages to load.