H. Sulaeman L. Hamzah: Kalau Mau Bangun Lembata Saya setuju, Tapi Kalau Mau Cari Uang di Lembata, Mohon Maaf

oleh -20 Dilihat

Lembata,HRC- Pernyataan tegas dari H. Sulaeman L. Hamzah ini diungkapkan ketika diminta closing statement oleh salah seorang peserta saat tatap muka bersama sejumlah tokoh muda Ile Ape di Hotel Palm, Kamis (13/10) malam.

“Kalau mau bangun Lembata, saya setuju, tapi kalau mau cari uang di Lembata, mohon maaf”, kata Sulaeman Hamzah mengenang perjumpaannya dengan almarhum Piter Keraf saat itu.

Dia menyampaikan hal itu karena berangkat dari kecintaan dan juga berangkat dari pemahamannya akan nilai-nilai sejarah Lembata yang begitu panjang, yang telah diperjuangkan dengan susah payah oleh para tokoh pencetus statement 7 Maret 1954, tokoh-tokoh pejuang otonomi Lembata 1999 dan seluruh rakyat Lembata. Sehingga dia tidak mau menempatkan orang yang hanya sekedar hadir di Lembata untuk memperkaya diri semata.

Dan ternyata penunjukan Piter Keraf telah berhasil membuktikan harapan itu. Dimata saya, Piter Keraf telah berhasil meletakan dasar-dasar pembangunan di Lembata. Karena itu ia pun menyampaikan penghormatannya kepada almarhum Piter Keraf.

“Pada waktu mengurus Lembata menjadi Kabupaten, saya punya mimpi besar untuk menghadirkan orang-orang Lembata yang pintar-pintar di luar. Mereka datang untuk membangun Lembata ini termasuk mengisi jabatan siapa yang menjadi Top Leader, siapa yang menjadi pemimpin di Lembata”, kata Sulaeman Hamzah.

Dan salah satu tokoh yang telah dipersiapkan waktu itu adalah Piter Keraf, putra asli Lamalera, Lembata.

Karena itu dia berharap “pembangunan ke depan kwalitasnya terus ditingkatkan. Hal-hal terkait fee proyek tidak boleh terjadi karena kita digaji untuk melayani masyarakat, kita tidak boleh pakai cara-cara yang merusak”, kata Sulaeman Hamzah.

Hal ini perlu diingatkannya, karena sebagai seorang pejuang otonomi memiliki tanggungjawab moril yang besar untuk leu auq lewotana Lembata.

Tanggungjawab yang harus tetap dijaga demi kesuksesan otonomi Lembata. Demi harapan tokoh-tokoh pencetus statement 7 Maret 1954, demi harapan tokoh-tokoh pejuang otonomi Lembata 1999 dan demi semangat rakyat Lembata untuk berdikari, untuk sejahtera di negeri sendiri.

“Jadi kewajiban saya harus menjaga semuanya. Mengkritisi apa adanya tanpa harus ditutup-tutupi dan memberikan gagasan dan sumbangsih pikiran untuk lewotana yang lebih baik”, ungkap Sulaeman L. Hamzah, anak rantau yang sukses mengais rezeki di tanah Papua, putra seorang petani dari sebuah desa di kaki Gunung Api Ile Lewotolok.

Sehingga perlu saya tegaskan kembali bahwa kehadirannya di Lembata kali ini, bukan untuk persiapan maju Pilkada. Dia hadir bersama Diaspora Lembata murni untuk acara launching buku yang sudah direncanakan jauh-jauh hari sebagai penanggung jawab terbitnya buku sejarah Lembata karya Thomas B. Ataladjar.

Jadi ketika isu politik dimainkan, dia merasa ada yang salah. Orang-orang salah menerjemahkan kehadirannya di tanah Lembata.

Menurut dia banyak pihak di Lembata memang terus bertanya-tanya arah dan langkah politiknya ke depan. Terutama para pelaku-pelaku politik baik di Lembata maupun di luar. Ada tokoh-tokoh politik coba membangun diskusi dengan saya agar bisa kembali membangun lewotana. Saya menghargai keinginan itu, saya menghargai maksud baik itu, namun biarlah kita memberikan kesempatan kepada kader-kader muda terbaik Lembata untuk maju.

“Kasih kesempatan dulu kepada orang-orang hebat disini. Orang-orang kita yang hebat-hebat disini masih banyak. Saya berharap pemimpin ke depan selain bicara hebat harus juga diikuti dengan kerja hebat. Tapi kalau bicara hebat, kerja tidak hebat, itu yang memalukan. Maka kalau untuk lewotana saya siap support dengan pikiran.

“Karena itu sekali lagi perlu saya jernikan disini, bahwa Saya kesini bukan untuk mau bertarung, mau merebut kekuasaan ini, bukan. Tapi harus dipahami bahwa saya meletakan dasar dulu dengan susah payah. Seluruh konsekuensi dari pemekaran ini saya bertanggungjawab. Tapi itu bukan berarti saya harus berada disini. Jadi sekali lagi saya datang khusus untuk launching buku bukan yang lain.

Namun kalau terpaksa itu dari masyarakat secara keseluruhan, partai politik juga secara keseluruhan mereka minta untuk saya datang, mungkin saya pertimbangkan dan harus juga atas restu partai”, kata Sulaeman Hamzah.

Sementara dari pertemuan dengan para tokoh muda Ile Ape, beberapa poin penting yang mengemuka dalam diskusi tersebut diantaranya terkait permasalahan air bersih di Ile Ape dan rencana relokasi pengungsi terdampak erupsi dan banjir bandang Seroja.

Menurut mereka kendala air bersih menjadi problem klasik bagi masyarakat setempat. Sehingga mereka berharap melalui pak Sulaeman Hamzah dapat menjembatani kesulitan air bersih yang dihadapi masyarakat Ile Ape.

Dan terkait rencana relokasi pengungsi terdampak bencana banjir bandang Seroja, ada kecemasan dan kekhawatiran dari mereka karena ketika sudah direlokasikan ke tempat-tempat pengungsian, dampak ikutannya adalah pada penggabungan desa dan kecamatan menjadi satu, karena dasar aturan. Hal ini yang tidak dikehendaki oleh warga pengungsi. Mereka tetap berharap status desa dan ataupun kecamatan tidak digabungkan.

Demikian hal-hal inilah yang mengemuka dalam pertemuan tersebut. Sehingga Sulaeman Hamzah merespon dan berjanji menjadi mediator bagi masyarakat terdampak dengan pemerintah.

Di samping itu, dia juga menyarankan kepada mereka untuk bertatap muka langsung dengan Pemerintah dan DPRD sehingga unek-unek itu dapat tersalurkan.

Adapun yang hadir saat diskusi bernuansa kekeluargaan ini, selain H. Sulaeman L. Hamzah, Dr. Goris Lewoleba, Heri Tana Tawa dan beberapa tim Diaspora Lembata, juga nampak ada Stanis Kebesa Langoday, Ali Geroda (Sultan Sabatani), Rahma, Kansi Halimaking, dan lainnya. ( Dessy/Ali)

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

No More Posts Available.

No more pages to load.