Filosofi Kludolfus Tuames Menjaga BPDAS

oleh -40 Dilihat

Kupang,HRC- ‘Saya memiliki hutan kecil yang saya tanam di rumah saya, kurang lebih 6 tahun lalu dan saat ini munculah satu sumber mata air meski sangat kecil. Ungkapan ini bisa menggambarkan, jika kita ingin berjalan cepat, maka berjalanlah sendiri tanpa ada orang lain, tetapi, jika saja kita ingin berjalan jauh, maka berjalanlah bersama-sama, ‘ demikianlah filosofi yang diterapkan Kepala Seksi Penguatan Kelembagaan pada BPDAS Provinsi NTT, Kludolfus Tuames ditemui Media Independent Hak Rakyat di ruang kerjanya belum lama ini.

Kludolfus Tuames mengatakan BPDAS merupakan salah satu UPT Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan, sementara DAS merupakan wilayah yang dibatasi oleh batas-batas alam berupa punggung bukit yang berfungsi menampung air hujan melalui sungai kecil dan dialirkan ke sungai utama selanjutnya terakhir ke Outlet Laut atau danau.

‘Karena di NTT tidak ada danau yang berfungsi optimum sebagai outlet atau pembuangan maka seluruh hujan turun mengalir ke laut,’tutur Tuames.

Pengelolaan DAS sendiri menurut Tuames merupakan pekerjaan pengelolaan bentang lahan yang disebut “Given “melintasi batas administratif baik Provinsi, Kabupaten dan lintas batas negara. Di NTT terdapat 10 DAS (titik) batas negara.

“Karena itu, semua wilayah ini terbagi atas DAS maka Kementerian Kehutanan tidak bisa bekerja sendiri, namun semua sektor harus berperan kolaboratif, sinergitas, koordinatif, sinkronisasi, integrasi dalam program kegiatan “tuturnya lagi.

Ia menjelaskan, air merupakan mahkota terpenting dalam mengelola DAS, mengingat seluruh sekmen kehidupan menggunakan air, karena itulah diperlukan adanya kolaboratif.

Dia merincikan, setidaknya terdapat 3 bagian DAS masing-masing bagian hulu yang didominasi tanaman lindung, bagian tengah meliputi permukiman dan bagian hilir.

Menurut Tuames, pihaknya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terlibat dalam kerja kolaboratif memperbaiki bumi dengan menanam pohon beraneka jenis di wilayah sekitar DAS, berdasarkan kesaksiannya bahwa provinsi NTT termasuk provinsi yang memiliki curah hujan tertinggi di Indonesia, karena itulah harus diusahakan adanya peresapan di dalam tanah agar mengurangi resiko erosi karena salah satu indikator terjadi erosi diakibatkan karena sendimen sungai yang terangkut serta kebiasaan masyarakat yang tidak ramah ekologi yang kerap membakar hutan yang sangat mempengaruhi kualitas tanah yang hilang sehingga tanah tidak bisa berproduksi maksimal.

” Menyadari betapa pentingnya lingkungan bumi kami terus berupaya dalam mengembalikan kesehatan bumi ini dengan memberikan anakan gratis baik anakan bersifat lindung, ekonomi, anakan buah -buahan, dan anakan estetika yang dibagikan kepada masyarakat” tambahnya.

Kewajiban merawat DAS menurut pria visioner ini merupakan kewajiban semua komponen masyarakat untuk merawat kembali ibu bumi.

“Kami sudah melakukan Tim kerja (partner) dalam hal pemulihan lingkungan oleh Das meliputi sekolah-sekolah, TNI, Polri ,KOREM, Gereja dan Dharmawanita” tuturnya.

Ia juga menghimbau dengan menjaga produk mahkota dari DAS maka dapat tercipta Land cover ( tutupan lahan) yang memungkinkan intensitas hujan turun tidak hilang ke laut, karena itu perlu ditanami pohon sehingga pada musim hujan air bisa meresap sehingga akan terjadi sumber air.

” Kita tanam pohon sebanyak-banyaknya, maka dengan itu air akan tersedia pada musim hujan maupun panas ” Ungkap Tuames.

Upaya lain yang telah dilakukan oleh DAS dalam membangun kesadaran masyarakat menurutnya adalah melalui platform publikasikan, pemasangan baliho, pembagian bibit di car free day, sehingga akses informasi dapat meluas.

Dia merincikan, di Daratan NTT terdata 3.987 DAS, saat ini hanya terdapat 2 DAS yaitu Benenain dan Noelmina yang menjadi prioritas, sementara sisa DAS lainnya masih harus ditangani masyarakat. (Desy)

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

No More Posts Available.

No more pages to load.